FILSAFAT SENI: Seni sebagai sesuatu yang kontekstual (Sebuah resensi buku: Jacob Sumardjo,2000)

 

Oleh: Riyan Hidayatullah

 

 

 

SENI SEBAGAI EKSPRESI

 

Seni adalah sebuah media yang biasa digunakan manusia untuk mengekspersikan sesuatu. Di dalam penggunaanya sedikit banyak menggunakan perasaan yang akan berpengaruh terhadap suatu pencapaian atau hasil karya seseorang. Dalam seni pula, perasaan harus dikuasai lebih dahulu, diatur dan dikelola sedemikian rupa untuk selanjutnya direpresentasikan menjadi sesuatu. Representasi seni adalah upaya mengungkapkan kebenaran atau kenyataan semesta sebagaimana ditemukan oleh senimannya. Sejak munculnya seni di dunia Barat di Zaman Yunani kuno, ada dua kubu dalam melihat alam semesta, yakni cara pandang empiris yang diawali dengan filsafat Arietoteles dan cara pandang idealis yang dipelopori oleh Plato. Dua cara pandang ini terus hidup dan berkembang secara bersamaan atau dialektis sepanjang sejarah estetika di dunia Barat.

Ada beberapa aspek penting yang melebur dalam lingkup seni sebagai suatu wilayah yang bebas. Memahami kreativitas dalam berkarya seni pengenalan akan tradisi yang semakin hilang dan ini menjadi tugas kita para generasi muda untuk mulai memelihara kesadaran berkesenian sebagai bangsa yang berbudaya. Hal ini pula yang harus dijadikan refleksi sebenarnya tujuan kita sebagai bangsa yang memiliki adat ketimuran untuk mulai mengkaji ulang tujuan seni berdasarkan paham atau kepercayaan yang kita anut. Dalam pandang kaum “sosial” dan “pecinta estetik”, seni mempunyai nilai-nilai yang sangat esensial. Nilai-nilai ini menggapai ukuran universal yang relatif dapat dikatakan absolut.

Selanjutnya adalah teknik seni, yang merupakan ciri suatu profesi. Teknik ini yang digunakan dalam seni sebagai identitas, diklasifikasikan menjadi beberapa cabang dan berkembang spesialisasi teknik. Mengenal seluk-beluk teknik seni dan menguasai teknik tersebut amat mendukung kemungkinan seorang seniman menuangkan gagasan seninya secara tepat seperti yang dirasakan. Ini karena bentuk seni yang dihasilkan amat menentukan kandungan isi gagasannya.

Dipersoalkan apakah karua seni seorang seniman it u harus dinilai dari moralitas senimannya? Apakah karya seni yang dikagumi itu menjadi berkurang nilainya ketika kita tahu bahwa kehidupan moral sang seniman itu payah. Atau sebaliknya, sebuah karya seni yang kurang bermutu menjadi bermutu ketika nkita mengetahui senimannya memiliki integritas moral yang hebat. Hal ini setidaknya mewakili kasus yang belum lama ini ramai dibicarakan publik, terkait kasus video asusila “mirip” para artis. Timbul berbagai kecaman, dukungan, bahkan ada juga yang menganggapnya biasa saja. Namun, dibalik itu semua, sebuah karya seni yang utuh memang diciptakan oleh seniman. Apakah si “karya” harus menanggung beban moral yang dilakukan oleh sang seniman? Atau terus berkiprah tanpa memandang status hukum yang sedang dijalani penciptanya. Dipandang dari sudut ini, tidaklah relevan untuk menghubung-hubungkan sifat seorang seniman yang jahat dengan karya seninya, dengan mengatakan bahwa karya seninya itu tidak ada nilainya. Begitu pula seniman yang hidupnya suci dan saleh tak akan bisa mendongkrak mutu karya seninya. Dalam kesenian, setiap petualangan, cepat atau lambat akan ketahuan. Modal seniman yang utama adalah keotentikannya, baik seniman besar ataupun kecil.

 

SENI SEBAGAI BENDA

 

Dalam sejarah estetika Eropa telah lama dikenal pembedaan tentang apa yang disebut seni. Sejak zaman Yunani dan Romawi, orang telah membedakan seni kasar dan seni halus (liberal arts). Seni kasar taua vulgar arts adalah karya seni kaum buruh, tukang, dan budak, sedangkan seni halus milik warga negara yang merdeka. Seiring perkembangannya, dua kubu seni yang berbeda tersebut memiliki cabang-cabang. Pengaruh penggolongan semacam ini masih terasa kental di Indonesia. Golongan feodal alias bangsawan menguasai kehidupan masyarakat, maka yang disebut seni hanya dapat dihargai oleh kaum feodal dan nilainya ditentukan oleh ideologi sosial yang tengah berkuasa atau berpengaruh.

Seni bukanlah benda, melainkan nilai yang dilihat oleh penikmat seni yang terkandung dalam benda tersebut. Nilai itu sifatnya abstrak, hanya ada dalam jiwa perorangan. Nilai itulah yang akhirnya berkembang menjadi sebuah kebenaran yang normatif sesuai dengan masyarakatnya. Benda seni dapat dilihat secara visual dan audio namun tak dapat dicium, inilah kegunaannya dalam mengawetkan  perwujudan bentuk nilai. Setiap bahan seni memiliki aspek mediumnya sendiri. Dalam seni sastra, bahannya memang bahasa yang berpokok pada kata. Jadi, bahan seni hanya sekedar alat atau instrumen seniman untuk mewujudkan gagasan seninya agar dapat didindera oleh orang lain.

Sebuah benda seni harus memiliki wujud agar dapat diterima secara inderawi oleh orang lain. Karena dalam proses itu makna atau nilai  dari suatu karya seni akan muncul. Nilai yang biasa ditemukan dalam karya seni ada dua, yakni nilai bentuk (inderawi) dan nilai isi (di balik yang inderawi). Dalam mewujudkan benda seninya, seorang seniman memang akan menampakkan ciri-ciri kepribadiannya yang mandiri dan khas, yakni berapa besar asli dan bakatnya, seberapa jauh keterampulan teknik seninya, dan bagaimana ia memperlakukan unsur-unsur bentuk seni tadi dalam caranya yang unik dan asli. Dilihat dari sudut senimannya, benda seni bermula dari ‘isi’ budi seniman dalam menanggapi lingkungannya. Tanggapan atau respon inilah yang kemudian diwujudkan dalam suatu “bentuk”. Seniman memang selalu memiliki tujuan dan hak sendiri dalam melahirkan karya seninya, tetapi nilai yang ditangkap orang lain dari karya itu tidak selalu sama.

Seni dibedakan antara bentuk perwujudan seninya dan isi jiwa yang ingin diwujudkan. Perbedaan ini akhirnya melahirkan dua sikap dalam penghayatan seni. Sikap atau kaum  pertama terlalu mementingkan isi (philistin), sedangkan yang lain terlau mementingkan bentuk (formalis). Kaum pemuja bentuk bersifat transendental dalam misi keseniannya. Sementara kaum isi terlalu sibuk dengan urusan imanen dunia Indonesia. Menghadapi perdebatan abadi antara kaum pemuja bentuk dan pemuja isi ini, kita bisa saja memihak pada salah satu kubu atau berada di tengah-tengah kubu kebenaran mereka masing-masing. Pada kenyataanya benda seni atau karya seni itu terlebih dahulu harus memenuhi persyaratan bentuk seni. Sebuah karya seni yang besar tentu memenuhi peryaratan bentuk maupun isi.

Seni yang bermutu adalah seni yang mampu memberikan pengalaman estetik, pengalaman emosi, pengalaman keindahan, atau pengalaman deni yang khas untuk dirinya. Clive Bell memaknakan kualitas seni yang demikian itu sebagai significant form atau bentuk bermakna. Tidak semua karya seni, bahkan yang kita anggap besar sekalipun, memiliki kualitas bentuk bermakna tadi. Seperti yang telah dijelaskan dalam paragraf sebelumnya, sebuah karya seni selalu harus bersifat sensoris, yakni terindera oleh mata dan telinga manusia. Dari penginderaan tadi bergolaklah sejenis emosi tertentu dalam diri penerimaseni. Maka, terjadilah apa yang disebut pengalaman seni. Seni musik agak mudah (relatif) mencapai bentuk bermakna dalam seni. Sebuah seni yang baik adalah seni yang mampu memberikan pengalaman emosi ataupun kognisi. Emosi dan kognisi seni adalah sesuatu yang kita kenal, tetapi sekaligus tidak kita kenal sebelumnya.

Persoalan yang sudah menjadi perdebatan antara pemikir seni dan para seniman sejak zaman Yunani Purba adalah timbulnya pertanyaan: Apakah seni menghadirkan kenyataan seperti apa adanya kenyataan itu (fisikal, spritual, mental dan sosial), atau menghadirka sesuatu yang ada di balik kenyataan itu? Dua kubu itu berawal dari Plato dan Aristoteles. Plato dengan filsafat ide yang menganggap bahwa seniman itu meniru kenyataan tiruan. Seorang pelukis yang melukis meja sebenarnya meniru (mimesis) meja tiruan (kenyataan) dari ide meja yang ada di dunia keabadian mutlak-universal. Aristoteles  juga menganggap seni itu tiruan alam, tetapi, meniru di sini buka seperti pantulan gambar cermin, tetapi melibatkan renungan dan meditasi yang kompleks atas kenyataan alam.

 

SENI SEBAGAI NILAI

 

Seni memang menyangkut nilai, dan yang dissebut seni memang nilai, bukan bendanya. Nilai adalah sesuatu yang selalu bersifat subjektif, tergantung pada manusia yang menilainya. Oleh karena subjektiflah, maka setiap daerah memiliki nilai-nilainya sendiri yang disebut seni.  Pada dasarnya setiap nilai seni dar konteks manapun memiliki nilai yang tetap. Setiap artefak seni mengandung aspek nilai intrinsik –artistik, yaitu berupa bentuk-bentuk menarik dan indah, hal ini berkaitan dengan seni sebagai ekspresi. Selanjutnya nilai kognitif atau pengetahuan seperti pada relief Budha yang menggambarkan keadaan pertapaan pada zamannya. Nilai yang terakhir adalahh nilai hidup diluar nilai artistik dan kognitif. Makna seni muncul karena adanya ketiga nilai tersebut yang merupakan satu kesatuan. Pandangan lain mengenai nilai-nilai selain tiga nilai diatas yakni, sebuah nilai akan tersampaikan pesan dan maknanya oleh orang yang memang benar-benar mengerti karya tersebut. Seni bisa bermacam ragam, tergantung pada gambaran atau konsep seseorang mengenai seni yang diperoleh lewat pengalaman dan pengetahuannya. Nilai juga dapat diartikan esensi, pokok yang mendasar, yang akhirnya dapat menjadi dasar-dasar normatif. Ini diperoleh dari pemikiran murni secara spekulatif atau lewat pendidikan nilai. Nilai sebagai esensi ini, dalam seni, dapat masuk ke dalam aspek intrinsik seni, yaitu struktur bentuk seni. Tetapi juga dapat masuk dalam aspek ekstrinsiknya berupa nilai dasar agama, moral, sosial, psikologi dan politik. Banyak nilai yang terkandung dalam sebuah karya seni yang tertuang lewat aspek intrinsik maupun ekstrinsik melalui penelusuran makna nilai secara falsafi.

Seni adalah sebuah kosmos.  Pengalaman Seni selalu berhubungan dengan segala tindak-tanduk seseorang di dunia sehingga manusia dapat  menuangkan ekspresi diri dalam sebuah wadah yang disebut seni. Pengalaman hidup sehari-hari itu bercampur aduk, silih berganti,  tumpang tindih tak teratur, mengalir seiring dengan waktu. Selama kita hidup dengan realitas, kita akan hanyut  dalam suatu pengalaman yang campur aduk tadi. Pengalamn di rumah, di jalan, dan  berbagai tempat. Ada yang menjengkelkan, menyenangkan, mengharukan dan menimbulkan stres. Inilah yang suatu keadaan chaos (kacau, tak teratur, tanpa bentuk). Keseimbangan dalam hidup akan terjadi jika manusia mampu mengendalikan chaos pengalaman seni dalam kosmos ang utuh dan sempurna.

Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah seni itu pada dasarnya universal? Pertanyaan ini tentu mengandung jawaban yang mungkin selalu kita dengar tentang seni bahwa seni itu mengandung nilai-nilai universal yang berlaku untuk semua tempat dan zaman. Dalam hali ini tentu hanya berlaku untuk karya seni yang memang bermutu. Nilai universal dalam seni bermutu mengakibatkan karya seni itu tak putus-putusnya diberi makna sesuai dengan persoalan nilai kontekstual.

Apapun permasalahan konteks yang terdapat dalam seni, namun yang menjadi prioritas utama adalah bukan persoalan yang menyangkut permasalahan kontekstual yang terdapat dalam suatu karya seni, melainkan seni itu sendiri. Namun kembali lagi kita akan disodori pertanyaan klise yang selalu menjadi perdebatan dalam berbagai teori estetika dan filsafat seni yaitu: apakah yang disebut karya seni itu mesti indah? Dan apakah yang indah itu merupakan seni? Maka, jika kita ambil dan sederhanakan menjadi dua komponen, yakni seni dan keindahan.  Keduanya saling berkaitan atau saling menunggangi dalam arti denitatif maupun konotatif. Setiap karya seni mengandung keindahan. Dan keindahan tidak selalu harus senada dengan keindahan secara kasat mata saja. Maka makna yang terkandung yang berhubungan dengan makna ekstrinsik atau intrinsik lah yang sebenarnya menimbulkan pernyataan atau konotasi yang berbeda dalam seni itu sendiri.

 

SENI SEBAGAI PENGALAMAN

 

Telah disinggung sebelumnya bahwa seni sangat berhubungan dengan pengalaman. Manusia hidup berinteraksi dengan alam lingkungannya, termasuk dengan benda seni buatan manusia itu sendiri. Dengan pengalaman yang melibatkan emosi, indera dan lingkungannya. Pengalaman itu berlangsung dalam waktu tertentu, ada awal dan ada akhirnya. Pengalaman juga selalu melahirkan sesuatu yang tak biasa dan tak terlupakan. Dalam ilmu seni, pengalaman dengan benda seni  dinamai pengalaman seni atau pengalaman estetik atau respons estetik. Istilah ini biasanya dibicarakan dalam hubungannya dengan penikmat seni. Pengalaman seni adalah pengalaman yang dialami oleh penikmat seni atau penanggap seni. Seperti pengalaman sehari-hari,  maka pengalaman seni juga merupakan suatu pengalaman utuh  yang melibatkan perasaan, pikiran, penderitaan, dan berbagai intuisi manusia. Hanya saja pengalaman seni berlangsung dalam kualitas pengalaman tertentu yang kadang-kadang  tidak sama dengan pengalaman sehari-hari.

Selain pengalaman seni, ada juga pengalaman artistik yang berangkat dari pengalaman estetik yang dilakukan sebagai dasar penciptaan karya seni. Pengalaman estetik menjadi dasar sebuah pengalaman seni yang bersifat pasif, sementara itu dilanjutkan dengan sebuah proses yang berhubungan dengan kegiatan produksi seni atau penciptaan seni. Dengan kata lain, sebuah proses pengkaryaan seni terlebih dahulu memerlukan sebuah pengalaman seni yang membantu seorang seniman memproduksi sesuatu, melalui pengalaman berapresiasi terlebih dahulu. Pengalaman artistik menunjukkan bahwa kerja penciptaan seni adalah kerja keras kretivitas  yang bukan main-main dan selalu melibatkan pengalaman terakhir yang seorang seniman dapat.

Seni yang ‘murni’ hanya menawarkan aspek  intrinsik tanpa kepentingan yang bersifat pragmatis. Karena seni bukan budak lembaga keilmuan, filsafat, ataupun agama. Seni secara otonom adalah aspek intrinsik soalnya, bentuk, unsur, dan struktur batau cara penyusunan unsur-unsur seni. Dalam bidang seni apapun, baik itu seni rupa, seni musik, atau seni tari selalu ada dua aspek utama yang berhubungan langsung dengan wujud kebendaan- artinya terindera, yakni aspek intrinsik dan ekstrinsik. Aspek intrinsik selalu berhubungan dengan kebendaan yang bersifat material yang membentuk karya seni tersebut, seperti bunyi dan suara dalam seni musik, cat lukis dan bidang gambar dalam seni rupa, gerakan dalam seni tari, dan bahasa yang membentuk dan gambaran pada seni satra. Selanjutnya penggunaan material tadi dilandasi oleh niat ekstrinsiknya, yakni gagasan, pikiran, dan perasaan seniman. Jadi, atak mungkin memisahkan aspek intrinsik dan ekstrinsiknya.

Seni merupakan ’kebebasan’, artinya tidak boleh ada suatu pendiktean terhadap penikmatnya. Sebagai contoh, dalam sebuah pertunjukkan atau pementasan, sutradara berusaha mewujudkan apa yang dia rasakan dan pikirkan. Perkara artinya seperti apa, itu terserah kepada penonton saja. Sutradara seperti ini bisa dikatakan seniman sejati, artinya dalam hal ini penonton boleh saja berpendapat terntang arti seni mengenai hasil karya seniman tadi, asal semua itu bertolak dari fakta karya seni itu sendiri. Sebuah karya seni yang baik memang bukan ilmu pengetahuan yang harus jelas batas dan isi pengertiannya. Sebuah karya seni disebut seni apabila ia berhasil  memberikan rangsangan dan daya hidup atau daya cipta bagi penerimannya. Seni adalah suatu dinamika dalam suatu keutuhan pengalaman. Sesuatu yang indahlah yang menggerakkan jiwa manusia. Dan gerak jiwa itu berenang dalam kebiasaanya sendiri dalam suasana permainan yang tanpa beban. Tugas seniman adalah menciptakan karya seni. Karya seni itu lahir dari pengalamn artistiknya. Dan tugas penerima seni adalah menghayati karya itu lewat penginderaanya yang langsung menggerakan syaraf perasaan dan pemikirannya.

Pada akhirnya, sebuah proses penciptaan seni akan dikembalikan kepada seorang penikmat atau penerima seni. Banyak berbagai seniman yang mewarnai dunia kesenian di Indonesia yang tidak mungkin secara holistik menjadi selera penikmat seni. Bagi penikmat musik pop tentu akan menilai musik jazz adalah musik yang membosankan, atau tidak berati, begitupun sebaliknya. Artinya, tidak semua orang menyukai semua karya seni yang dinilai bagus. Masalah buakn terletak pada pemahaman aliran seninya, tetapi justru pada selera seni yang sebenarnya. Selera ini lebih menjurus kepada tempramen seseorang, yang terkadang timbul kesan ‘fanatik’. Selera tak dapat diperdebatkan, karena masing-masing kita, baik seniman maupun penanggap seni memang memiliki selera yang berbeda-beda. Jadi, sebenarnya seseorang yang berselera baik bukanlah mereka yang menyukai produk mutakhir dari produk seni Barat yang mereka anggap mewakili apresiasi seni yang tinggi, karena yang terjadi pada mereka yang sebenarnya adalah kecerdasan yang mengakibatkan tingginya pertimbangan rasionalitas mereka dalam seni. Kalau hanya perbedaan cara pandan seni, seharusnya mereka juga dapat mengambil nilai pengalaman seni dari cara pandang seni yang lain yang pernah ada, karena pemahaman seperti itulah yang sebenarnya baik.

Setiap manusia memiliki kepentingan pribadi yang berbeda-beda yang disebabkan  oleh kebutuhan hidup dan pemaknaan hidup yang berbeda-beda. Hali inilah yang sangat berpengaruh  tehadap kepentingan pribadi (interest) seseorang dalam memaknai dan menghayati  sebuah karya seni yang sama. Dalam satu karya yang sama setiap orang atau penerima seni ada yang menaruh perhatian pada gejala sosial, ada yang tertarik pada masalah kejiwaan individu, ada yang amat religius, ada juga yang hanya tertarik pada soal-sola ekonomi. Akan ada banyak sudut pandang yang menggambarkan sebuah karya terhadap penikmatnya sendiri.

 

PUBLIK SENI

 

Berbicara mengenai konteks seni memang terlalu luas, akan banyak aspek yang terkandung di dalamnya, termasuk sosio-budaya. Sosio-buya memang sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat, baik penikmat maupun seniman itu sendiri. Akan ada banyak nilai-nilai yang tentu saja berbeda masing-masing daerah, sesuai dengan nilai-nilai seni yang tumbuh dari para leluhurnya. Namun, komunikasi seni akan terjadi secara alami, seiring dengan berjalannya waktu dan proses pendewasaan dalam memahami seni tersebut. Dalam perkembangannya, kondisi sosio-budaya dan nilai seni dapat berubah. Terdapat tiga unsur utama dalam proses legitimasi sebuah benda untuk dapat disebut karya seni, yakni seniman, benda seni, dan publik seni. Kondisi sosio-budaya kita memerlukan sebuah sistem. Sistem yang mengatur seluruh aspek kebudayaan yang akhir-akhir ini mulai hilang oleh arus modernisasi. Kesimpulannya, hanya melalui pendidikanlah seni dapat ditamankan. Pendidikan yang sama akan melahirkan sistem nilai yang sama. Dan sistem nilai yang sama akan melancarkan komunikasi seni. Berangkat dari situ orang baru bisa bicara tentang ‘seni modern Indonesia’.

Kesenian bagi kaum terpelajar Indonesia pada umumnya masih menduduki fungsi penhibur dan bukan bagian dari suatu arus pemikiran bangsanya. Sikap ini tercermin dari penggunaan seni sebagai media pelepas kepenatan sehari-hari atau mata pelarajan ‘selewatan’ saja. Dalam dunia pendidikan formal saja, pelajaran seni hanya memiliki satu atau dua jam saja dalam satu minggu, sedangkan bila melihat target kurikulum yang ingin dicapai, standarnya terlalu tinggi untuk masing-masing produk (SD, SMP, SMA). Pengertian bahwa seni hanya sebagai pelengkap dan bukan dijadikan sebagai arus pemikiran inilah yang sangat bertentangan dengan ideologi negara-negara maju, yang menjujung tinggi akan pentingnya nilai seni sebagai pembentuk kepribadian bangsa.

Melihat perkembangan seni yang terjadi di Indonesia, seakan-akan melihat kebudayaan orang yang sukses besar di negara orang. Hal ini karena kurangnya pertahanan kita dalam memaksimalkan budaya yang ada untuk dijadikan sebagai aset bangsa terbesar yang wajib dilestarikan. Sehingga tidak akan ada persoalan perebutan hak dimasa depan. Persoalan tradisi seni bangsa yang lemah paling nyata tercermin salah satunya dari tradisi seni elit kita yang memiliki kedudukan sosial-politik yang tinggi dan berpengaruh, yang akhirnya ideologi hidup mereka mendominasi kehidupan bangsanya. Sejarah senin Barat adalah sejarah seni elit ini. Yang bukan seni elit dianggap bukan seni. Di luar seni elit ini berkembang pula seni akademis, seni populer, seni tradisional kerakyatan (etnik) maupun klasik, dan seni massa (radio, televisi, film). Masing memiliki ideologi, maka sikap terbaik adalah memahami dasar pijakan dan estetikanya sendiri.

Dalam setiap kasus perdebatan mengenai seni selalu ada wacana. Wacana inilah yang akhirnya cenderung menimbulkan berbagai ideologi yang mendasari setiap hasil karya seni. Namun, masalahnya adalah kita tidak sepintar negara-negara Eropa dalam memandang setiap wacana yang terjadi. Muncul kaum-kaum yang memandang seni secara objektif dan subkjektif. Pada akhirnya terjadi pembiasan pemaknaan seni yang sebenarnya tidak perlu terjadi bila kita mampu menempatkan diri terhadap setiap konteks permasalahan yang ada.

Masalah pendidikan memang akar masalah segala persoalan yang ada di bangsa ini, termasuk dala pendidikan seni. Maka jika kita menyoroti lebih jauh ke dalam dapur dinia seni kita, maka akan terlihat perbedaan yang sangat krusial antara seniman dan masyarakat. Perangkat pegetahuan yang tersedia selama ini tidak cukup memadai untuk dikonsumsi oleh kaum awam, sehingga tidak terjadi sebuah komunikasi seni yang baik. Sedang jika dikaitkan dengan pengalaman seni yang melibatkan penginderaan yang diikuti oleh tanggapan dari semua aspek kejiwaan seseorang, seperti layaknya dalam pengalaman hidup sehari-hari. Dalam pengalaman seni ini sering si penanggap dapat mereduksi nilai-nilai seni yang terkandung dalam suatu karya, atau sebaliknya. Pereduksian atau pemiskinan nilai-nilai seni, atau bahkan terjadinya hambatan dalam proses pembentukan pengalaman seni menyebabkan kita dapat berbicara tentang kesalahpahaman seni.

Di Indonesia masih sedikit sekali peran seorang tokoh yang secara khusus ‘mengkritik’ seni. Banyak yang menulis masalah kritik seni, tetapi sedikit yang diakui sebagai kritikus seni. Pada akhirnya semua akan kembali kepada masalah peran. Seniman dan kritikus tidak dapat dibentuk, dilatih, dan dididik agar diakui statusnya sebagai seniman dan kritikus. Namun peranlah yang utama, yaitu peran yang menghasilkan karya-karya seni dan karya-karya kritik yang berkualitas seperti kualitas yang diharapkan oleh masyarakatnya.

 

KONTEKS SENI

 

Manusia sebagai makhluk sosial dalam masyarakat tidak terlepas dari suatu sistem nilai. Sebut saja salah satu sistem nilai yang beredar adalah sistem nilai dasar materi yang mendominasi nilai-nilai dalam suatu kebudayan dalam masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat, materi sangat penting dalam kehidupan. Karena materi menjadi tolak ukur utama yang harus dicapai untuk mempertahankan hidup. Sehingga nilai seni masyarakat dalam konteks materi pun akan mengacu kepada nilai dasar ini. Contoh lain, dalam masyarakat terpelajar yang nilai dasarnya adalah pengetahuan dan nilai hidup yang mengarah kepada kesempurnaan hidup, nilai seni juga berlandaskan asas itu. Sekarang saja sudah terjadi banyak pengklasifikasian mengenai nilai-nilai dasar seni tersebut yang dikaitkan dengan strata sosial. Dari mulai strata terendah sampai tertinggi mempunyai standarisasi tertentu yang dogmatis terhadap komunitasnya.

Setiap karya seni, sedikit banyak mencerminkan setting masyarakat tempat seni itu diciptakan. Secara tidak langsung, seorang seniman yang hidup dalam suatu masyarakat tertentu akan dididik oleh keadaan atau iklim seni di daerah tersebut. Seniman memahami dan menguasai nilai seni dan nilai-nilai lain dalam masyarakat. Pendidikan seni yang didapat langsung dari masyarakat itulah yang mempengaruhi proses penciptaan karya seninya. Sebelum menjadi seorang seniman, seniman adalah bagian dari masyarakat. Melaui proses alamiah tadi seorang masyarakat belajar dan mengembangkan kemampuan berkeseniannya sehingga kemampuannya diketahui, dihargai, dan pada akhirnya mendapat pengakuan dari masyarakat itu sendiri. Dalam konteks lain, seni dapat membentuk manusia dan masyarakat dengan cara yang berbeda, yakni dengan cara ilmu dan teknologi. Ilmu yang membuat manusia berfikir lebih baik dan belajar untuk menemukan sesuatu dan mewujudkannya menjadi sebuah karya atau benda seni yang bernilai.

Dalam kehidupan bermasyarakat, seni selalu dikaitkan dengan masalah moral. Ada pandangan bahwa seni harus bersendi kepada moral, sementara pandangan lain berpendapat bahwa seni dan moral adalah dua tugas yang berbeda, sehingga seni tak harus dinilai berdasarkan asas moral. Seni mengabdi kepada keindahan, sedangkan moral pada kebaikan. Seni yang sejati sudah barang tentu bermoral, moralnya adalah keindahan itu sendiri, sebab keindahan adalah kebaikan dan kebenaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3 Responses to FILSAFAT SENI: Seni sebagai sesuatu yang kontekstual (Sebuah resensi buku: Jacob Sumardjo,2000)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s